Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Inflasi : Pengertian, Penyebab, Dampak dan Pencegahannya

Pengertian

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Inflasi adalah kemerosotan nilai uang karena banyaknya dan cepatnya uang beredar sehingga menyebabkan naiknya harga barang-barang.

Menurut International Monetary Fund (IMF), Inflasi merupakan laju kenaikan harga selama periode waktu tertentu. Inflasi berupa kenaikan harga barang atau kenakan biaya hidup di suatu negara.

Inflasi dan dampaknya
Inflasi
Kenaikan harga yang dimaksud bisa terjadi secara keseluruhan, tetapi bisa juga beberapa barang tertentu seperti makanan atau jasa. Inflasi mewakili mahalnya barang atau jasa selama periode tertentu, umumnya selama satu tahun.

Penyebab Terjadinya Inflasi

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya inflasi. Secara umum, penyebab inflasi adalah karena terjadinya kenaikan permintaan dan biaya produksi. Secara rincinya, berikut adalah beberapa penyebab inflasi:

1. Meningkatnya Permintaan

Inflasi yang terjadi disebabkan karena peningkatan permintaan untuk jenis barang atau jasa tertentu. Dalam hal ini, peningkatan permintaan jenis barang atau jasa tersebut terjadi secara menyeluruh (agregat demand). Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya: 

  • Meningkatnya belanja pemerintah, 
  • Meningkatnya permintaan barang untuk diekspor, 
  • Meningkatnya permintaan barang untuk swasta

2. Meningkatnya Biaya Produksi (Cost Pull Inflation)

Inflasi yang terjadi karena meningkatnya biaya produksi. Adapun peningkatan biaya produksi disebabkan oleh kenaikan harga bahan-bahan baku, misalnya Harga bahan bakar naik, Upah buruh naik

3. Tingginya Peredaran Uang

Inflasi yang terjadi karena uang yang beredar di masyarakat lebih banyak dibanding yang dibutuhkan. Ketika jumlah barang tetap, sedangkan uang yang beredar meningkat dua kali lipat, maka bisa terjadi kenaikan harga-harga hingga 100%.

Inflasi dan dampaknya
Inflasi
Dampak Inflasi

Selain berdampak pada kebutuhan anggaran masyarakat, dampak inflasi pada perekonomian sangatlah luas, beberapa dampak inflasi, yaitu:

1. Berkurangnya Daya Beli

Ketika terjadi inflasi, harga barang dan jasa akan naik sehingga uang yang dimiliki masyarakat memiliki nilai riil yang lebih rendah. Masyarakat perlu mengeluarkan lebih banyak uang untuk barang atau jasa yang sama.

Konsumen atau masyarakat dengan pendapatan rendah atau pendapatan yang tetap selama inflasi akan mengalami penurunan standar hidup.

Masyarakat akan lebih hemat dalam pengeluaran. Hal ini akan menghambat pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

2. Suku Bunga Lebih Tinggi

Ketika terjadi inflasi, bank sentral akan meningkatkan suku bunga acuan sebagai usaha untuk mengendalikan inflasi. Kenaikan suku bunga akan membuat biaya pinjaman uang bagi konsumen akan meningkat sehingga belanja konsumen akan berkurang.

Rata-rata konsumen menggunakan pinjaman untuk pembelian besar, seperti rumah atau kendaraan. Kenaikan suku bunga akan berdampak pada konsumsi belanja rumah tangga. Hal ini akan menghambat laju investasi dan perekonomian suatu negara.

3. Penyusutan Nilai Uang

Ketika harga semakin mahal, dampak inflasi akan dirasakan oleh semua orang. Orang-orang tentu perlu membeli makanan dan listrik, tetapi dengan peningkatan harga, pemenuhan kebutuhan hidup semakin sulit.

Nilai uang tunai yang disimpan dalam bentuk tabungan atau investasi juga akan memiliki nilai yang rendah.

Tabungan dan investasi bisa habis untuk memenuhi kebutuhan pokok dan perputaran uang tidak berjalan. Hal ini dapat berdampak pada industri maupun pada perekonomian.

4. Pertumbuhan Ekonomi Melambat

Dengan berkurangnya nilai uang, masyarakat dan industri bisnis akan lebih berhati-hati dalam pengeluaran dan investasi. Penurunan permintaan konsumen dapat mengancam produksi barang dan jasa.

Perekonomian di kancah pasar global juga akan terhambat dengan kurangnya daya saing ekonomi. Harga dalam negeri naik sehingga barang dari negara inflasi menjadi mahal.

Hal ini dapat mengurangi ekspor dan dapat mengganggu persaingan pasar internasional.

5. Tindakan Anti-Inflasi Dapat Menyebabkan Resesi

Pemerintah dan bank sentral perlu mengambil tindakan anti-inflasi ketika inflasi tinggi. Mereka dapat menaikkan suku bunga atau mengurangi jumlah uang yang beredar. Namun, hal tersebut dapat berdampak negatif pada pertumbuhan ekonomi.

Menaikkan suku bunga akan membuat konsumen mengurangi belanjanya karena biaya pinjaman lebih mahal. Hal tersebut akan menghambat bahkan menyebabkan penurunan output ekonomi, yang disebut dengan resesi.

Jenis-Jenis Inflasi

Setelah mengetahui apa itu inflasi, berikut ini jenis-jenis inflasi dalam ekonomi.

A. Jenis Inflasi Berdasarkan Tingkat Keparahannya

Inflasi dapat dibedakan jenisnya menurut tingkat keparahannya.

  1. Inflasi ringan: inflasi di bawah 10% setahun
  2. Inflasi sedang: inflasi antara 10% hingga 30% setahun
  3. Inflasi berat: inflasi antara 30 % hingga 100% setahun
  4. Inflasi sangat berat: inflasi di atas 100% setahun

B. Jenis Inflasi Berdasarkan Tempat Asalnya

Jenis inflasi juga bisa dibedakan berdasarkan asal munculnya inflasi tersebut.

1. Inflasi dari Dalam Negeri (Domestic Inflation)

Inflasi dari dalam negeri bisa terjadi ketika biaya produksi dan permintaan masyarakat dalam negeri meningkat sehingga keseimbangan harga tidak bisa dicapai.

2. Inflasi dari Luar Negeri (Imported Inflation)

Inflasi dari luar negeri terjadi karena harga barang impor meningkat. Barang-barang dari luar negeri mengalami kenaikan harga sehingga konsumen dalam negeri juga perlu membayar lebih.

Peran Bank Sentral dalam Mengendalikan Inflasi

Bank sentral melalui kebijakan moneter dapat mengontrol jumlah uang beredar untuk mengendalikan inflasi dengan menggunakan tiga kebijakan moneter utama sebagai berikut.

1. Operasi Pasar Terbuka 

Bank sentral membeli dan menjual obligasi negara dengan cara bank sentral menginstruksikan para pialang obligasi untuk membeli dari publik di pasar obligasi nasional. Uang yang dibayarkan bank sentral untuk obligasi tersebut meningkatkan jumlah uang beredar di suatu negara. Untuk mengurangi jumlah uang beredar, pemerintah melakukan hal yang sebaliknya.

2. Tingkat Diskonto 

Bank sentral melalui regulasinya dapat menaikkan atau menurunkan tingkat bunga pinjaman untuk bank-bank umum di bawahnya. Bank umum meminjam dari bank sentral jika memiliki sedikit cadangan untuk memenuhi persyaratan cadangan, ketika bank sentral memberikan pinjaman kepada bank umum tersebut, sistem perbankan memiliki lebih banyak cadangan dibandingkan dengan yang seharusnya sehingga cadangan tambahan ini memungkinkan sistem perbankan menciptakan lebih banyak uang. Semakin tinggi tingkat diskonto yang ditetapkan bank sentral terhadap bank umum, maka semakin enggan bank meminjam cadangan dari bank sentral. Oleh karena itu, kenaikan tingkat diskonto mengurangi cadangan dalam sistem perbankan yang kemudian mengurangi jumlah uang beredar.

3. Syarat Cadangan Kas Minimum 

Bank sentral dapat meningkatkan atau mengurangi syarat cadangan kas minimum yang harus dimiliki oleh bank umum di negaranya. Kenaikan syarat cadangan kas minimum berarti bahwa bank-bank harus memegang lebih banyak cadangan sehingga mengurangi pinjaman dari setiap unit yang disimpan, akibatnya hal tersebut meningkatkan rasio cadangan menurunkan penggandaan uang, dan menurunkan jumlah uang yang beredar. Sebaliknya penurunan syarat cadangan minimum menurunkan rasio cadangan, meningkatkan penggandaan uang, dan meningkatkan jumlah uang yang beredar.

Sumber : Berbagai sumber dan referensi yang relevan


Joko Sunaryanto
Joko Sunaryanto Jangan lupakan jati dirimu. "Sangkan paraning dumadi"

Posting Komentar untuk "Inflasi : Pengertian, Penyebab, Dampak dan Pencegahannya"